PENERAPAN GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) DALAM MANAJEMEN ASET DI DAERAH

PENDAHULUAN

Sistem informasi dapat di implementasikan terhadap banyak hal. Aplikasi sistem informasi yang paling banyak dikenal saat ini adalah Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan Sistem Informasi Geografik (SIG). SIM merupakan aplikasi sistem informasi yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasi, manajemen, analisis, dan pengambilan keputusan pada suatu organisasi. Sedangkan SIG merupakan aplikasi sistem informasi yang memuat sekumpulan prosedur untuk mengintegrasikan data atribut (numerik, alfabetik, dan alfanumerik) dengan data grafik yang bereferensi geografik untuk selanjutnya dilakukan manipulasi, analisis, dan pengambilan keputusan

Berbagai macam data wilayah perlu disediakan untuk keperluan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan. Karena pentingnya data wilayah tersebut, maka data yang akurat dan up to date sangat dibutuhkan oleh pemerintah daerah. Pada prinsipnya data tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) macam yaitu : (a) data statistik, dan (b) data spasial (keruangan). Untuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan, dua bentuk data tersebut satu sama lain saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Data statistik penting untuk mengetahui jenis dan kuantitas, sedangkan data spasial (dalam bentuk peta) selain dapat untuk mengetahui jenis dan kuantitas data yang ada pada suatu wilayah, juga dapat mengetahui pola/sebaran dan perkembangan data secara spasial (keruangan).

Perkembangan wilayah yang sangat dinamis, menyebabkan sebagian besar data wilayah dalam bentuk peta kadaluarsa (out of date) bila dibandingkan dengan data statistik. Hal ini dapat dimaklumi karena untuk visualisasi data dalam bentuk peta membutuhkan dana yang cukup besar dan waktu yang relatif lama. Sebagai akibat, banyak wilayah yang masih memanfaatkan peta lama untuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu disusun suatu sistem informasi (data base) wilayah dalam bentuk peta yang up to date dan siap dilakukan up–dating data setiap waktu sehingga dapat digunakan sebagai dasar dan sarana perencanaan wilayah. Realisasi rencana penyusunan data wilayah yang up to date tersebut dapat dilaksanakan dengan mengembangkan Sistem Informasi Geografi (SIG). SIG diharapkan sebagai salah satu instrumen perencanaan yang mampu menghadapi tantangan dan dinamika pembangunan daerah dimasa yang akan datang.

GEOGRAPHIC INFORMATION SYTEM (GIS)

Sistem Informasi Geografis (SIG) atau Geographical Information System (GIS), seiring dengan perkembangan teknologi adalah suatu sistem yang dikembangkan untuk mengelola, menganalisis dan menampilkan informasi geografis (ESRI, 2004). GIS menawarkan suatu sistem yang mengintegrasikan data yang bersifat keruangan (spatial) dengan data tekstual yang merupakan diskripsi menyeluruh tentang obyek dan mempermudah pengguna menyebarluaskan kaitannya dengan obyek lain di ruang muka bumi. Dengan sistem ini data dapat dikelola dan dimanipulasi untuk keperluan analisis secara menyeluruh dan sekaligus menampilkan hasilnya dalam berbagai format baik dalam bentuk peta maupun berupa tabel atau laporan (Asmarul A, 2000).

WEBSITE GIS

GIS berbasis web atau disebut WebGIS atau juga sering disebut dengan Internet GIS, distributed GIS atau mobile GIS didefinisikan sebagai suatu jaringan berbasis layanan informasi geografis yang memanfaatkan internet baik menggunakan jaringan kabel maupun tanpa kabel untuk mengakses informasi geografis maupun sebagai tools guna melakukan spatial analysis (Ren Peng.Z and Hsing Tsou.M, 2003).

WebGIS berfungsi sebagai platform untuk mempermudah pengguna untuk menyebarluaskan informasi spasial, diharapkan dengan adanya WebGIS ini pertukaran informasi akan menjadi lebih mudah dan efisien. Keuntungan lain yang dapat diperoleh dari teknologi web adalah kemudahan dalam melakukan pemutahiran data dan menampilkannya dalam waktu yang bersamaan.

Penyebaran data dan informasi yang ditampilkan antara lain :

1. Data bio fisik termasuk didalamnya penggambaran daerah aliran sungai, data hutan, data air, data keanekaragaman hayati, dan data & informasi lingkungan hidup,

2. Data mengenai sosio-ekonomi, pembangunan dan kemiskinan, seperti demografi, statistik pertanian, konsumsi dan pengeluaran, indikator sasaran pembangunan milenium (MDGs), dan indeks pembangunan manusia,

3. Peta infrastuktur termasuk jalan, pelabuhan, bandara, rel penghubung, batas administratif hingga tingkat desa,

4. Informasi umum setiap kabupaten, kota atau provinsi seperti alamat kantor Bupati, sejarah, potensi alam, potensi wisata dan infrastruktur yang tersedia.

SISTEM GIS DALAM MANAJEMEN ASET

Salah satu masalah utama pengelolaan barang (aset) daerah adalah ketidaktertiban dalam pengelolaan data barang (aset). Ini menyebabkan Pemerintah Daerah kesulitan untuk mengetahui secara pasti aset yang dikuasai/dikelolanya, sehingga aset-aset yang dikelola Pemerintah Daerah cenderung tidak optimal dalam penggunaannya, serta disisi lain Pemerintah Daerah akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan pemanfaatan aset pada masa yang akan datang. Implikasi dari pemanfaatan dan pengelolaan aset yang tidak optimal adalah tidak diperolehnya nilai kemanfaatan yang seimbang dengan nilai intrinsik dan potensi yang terkandung dalam aset itu sendiri.

Setiap barang(aset) selalu memiliki dimensi ruang, Aset Pemerintah Daerah memiliki beragam karakteristik serta berada dalam posisi geografis yang tersebar, sehingga pendekatan keruangan (spatial) dalam pengelolaan aset menjadi sangat penting. Pengelolaan (manajemen) aset dengan menggunakan pendekatan keruangan (spatial) akan memberikan keunggulan dan manfaat sebagai berikut :

1. Setiap obyek barang (aset) selalu ditempatkan dalam atribut (dimensi) ruang, baik berkaitan dengan obyek barang (aset) itu sendiri maupun posisinya dalam suatu lokasi tertentu. Ini akan memberikan kemudahan dalam analisis aset secara spatial ( spatial analysis ), mengingat ruang selalu “bergerak” dinamis.

2. Beberapa jenis aset tertentu bersifat sensitif terhadap variabel ruang, yaitu aset tanah (land) dan bangunan. Kedua jenis aset ini memiliki “nilai” yang sangat signifikan dibandingkan aset-aset lainya, serta mengandung potensi ekonomis yang sangat besar.

3. Ruang juga memiliki problematika yang kompleks, karena berkaitan dengan masalah hukum (aspek legal) dan fungsionalitas peruntukan (RTRW) sesuai dengan ketentuan (regulasi) tentang pemanfaatan ruang, sehingga mengeksplorasi aset dari sudut pandang ruang sama halnya dengan menyelesaikan sebagian dari masalah keruangan itu sendiri.

4. Pada obyek barang (aset) tanah dan bangunan, perencanaan penggunaan dan pemanfaatanya di masa yang akan datang akan lebih mudah dilakukan karena sangat berkaitan erat dengan peruntukan ruang, aspek demografi, kepentingan transportasi-telekomunikasi dan sebagainya.

5. Atribut spatial pada aset dapat dimanfaatkan untuk kerangka referensi bagi kepentingan lain. Misalnya untuk organisasi yang besar seperti ketata-pemerintahan daerah serta berbagai kepentingan ( multi-fungsi) strategis wilayah lainnya.

Untuk mencapai tujuan pengelolaan aset secara terencana, terintegrasi dan sanggup menyediakan data dan informasi yang dikehendaki dalam tempo yang singkat, diperlukan suatu sistem informasi pendukung pengambilan keputusan atas aset (decision supporting system), yang lazim dikenal sebagai Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) dengan perangkat aplikasinya Sistem Informasi Geografis ( Geographic Information Sytem/GIS ). Peta merupakan kunci pada GIS. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan GIS jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.

Bagi Pemerintah Daerah, SIMA Berbasis GIS ini akan memberikan kemudahan dan beberapa keunggulan sekaligus dalam hal :

1. Seluruh atribut data aset tercatat dan terinventarisasi dengan rinci,

2. Tercapainya tertib administrasi atas pencatatan aset (penambahan, penghapusan, up-dating dan lain-lain),

3. Pengolahan data-data aset cepat, sehingga informasi bisi diperoleh lebih efektif dan efisien,

4. Proses monitoring terhadap aset lebih optimal, ini disebabkan karena kemampuan SIMA untuk melakukan analisis baik atas aset maupun spasial,

5. Memberikan kemudahan (supporting tools) dalam proses pengambilan keputusan,

6. Karena dibangun di atas konsep spasial, SIMA mudah dikembangkan sebagai sistem informasi manajemen wilayah (estate management information system), baik untuk kabupaten/kota maupun propinsi.

Pilihan design dan teknologi pengembangan SIMA, setidaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Spatial-based Approach

Dikembangkan dengan menggabungkan basis data aset (tekstual,tabular) dengan basis data stasial (geografis) dalam bentuk vektor dan raster.

2. Lite Subsystem of Core System

Dapat diintegrasikan sebagai bagian dari sistem informasi keuangan daerah (SIKD) atau sistem informasi manajemen pemerintah daerah (SIMPD)

3. Multi Platform

Dapat dijalankan di ats pelbagai platform sistem informasi yang ada saat ini. Ini memberikan fleksibilitas dan kemudahan dalam instalasi, pengoperasian dan pengembangan di masa datang.

4. Seallable

Teknologi yang dikembangkan adalah PC-Based dengan database yang memiliki skalabilitas yang tinggi untuk menangani data aset yang berkembang.

5. Simple Use (User’s Friendly)

Ini adalah terminilogi untuk menunjukan bahwa aplikasi SIMA mudah untuk digunakan (dioperasikan) tanpa membutuhkan pengetahuan dan keterampilan penggunaan teknologi informasi/komputer yang tinggi.

6. Component (object) Based

Dirancang dengan menggunakan model component/object based yang memberikan kemudahan untuk di-reengineering atau diperkaya dengan fitur-fitur lain yang dibutuhkan sesuai dengan business process pengelolaan aset.

7. Real-Time Scenarios

Desain arsitektur SIMA dikembangkan dengan skenario real-time (enterprise), yang dapat dioperasikan secara off-line maupun on-line tergantung kebutuhan masing-masing daerah.

Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh Yayasan Inovasi Pemerintah Daerah (YIPD) dalam membangun website : www.sulawesigis.org untuk mengelola Basisdata dan Menyebarluaskan Informasi Spatial Pemerintah Daerah di Sulawesi dengan menggunakan Geographic Information Sytem (GIS).

Dengan memanfaatkan pendekatan spasial dan keunggulan GIS, pengembangan SIMA merupakan salah satu investasi Pemerintah Daerah untuk pelbagai kepentingan strategis lainnya. Disamping sebagai sistem yang andal untuk membantu pengelolaan manajemen aset serta sebagai salah satu sarana bagi promosi potensi ekonomi daerah, SIMA juga merupakan pondasi bagi pengembangan sistem informasi manajemen wilayah (estate management) yang akan sangat dibutuhkan, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan kabupaten/kota.

Pengembangan SIMA di daerah untuk mendukung pengelolaan kawasan kabupaten/kota akan sangat mudah dilakukan karena SIMA dikembangkan dengan berbasis geografis dan memberikan keuntungan ganda, bukan saja sebagai alat (tools) untuk membantu pengelolaan aset, namun juga dasar bagi pengelolaan wilayah kabupaten/kota. Dengan demikian pengembangan sistem informasi ini merupakan suatu investasi penting bagi pemerintah daerah kabupaten/kota dalam mewujudkan good corporate governance.

Dalam aplikasinya terhadap kebutuhan GIS dalam menyediakan data mengenai lingkungan hidup sangat penting. Saat ini kebutuhan akan data dan peta yang menggambarkan potensi dan kerusakan lingkungan sangat jarang dijumpai terutama didaerah kabupaten/kota. Hal ini juga disebabkan untuk membangun sebuah informasi yang handal memerlukan biaya yang cukup tinggi

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan sistim yang harus diprioritaskan karena dengan tersedianya data base yang baik dalam SIG sangat menunjang perencanaan pembangunan daerah yang berkesinambungan dan berwawasan lingkungan karena mampu memperhatikan seluruh aspek terkait. Disamping itu juga dapat digunakan sebagai sarana analisis dan evaluasi kegiatan pembangunan.

2. Pengembangan SIG menuntut adanya organisasi dan manajemen yang baik serta aspek legalitas dan kebijaksanaan pimpinan yang lebih atas. Organisasi dan manajemen diperlukan untuk menjamin kelangsungan kegiatan karena SIG mempunyai prinsip dasar keterpaduan serta kerjasama yang erat antara prosedur dan user. Pembuatan program kegiatan yang mencakup aspek pengorganisasian, peralatan, sumberdaya manusia, serta dana harus terjalin secara benar dan proposional. Sedangkan aspek legalitas dan kebijakan pimpinan karena dalam implementasinya banyak faktor-faktor teknis yang harus didukung dua hal tersebut. Dan pengembangan SIG merupakan pekerjaan yang bersifat berkelanjutan terutama dalam proses up-dating data – data yang terkait dalam SIG, demi lancar dan tepatnya pengambilan kebijaksanaan pembangunan.

3. Perlu pembentukan dan peningkatan (bila sudah ada) organisasi atau manajemen khusus di pemerintahan yang menangani masalah pengembangan SIM dan SIG, serta dukungan yang jelas dari pimpinan, aspek hukum atau legalitas. Organisasi tersebut bisa saja dinas/instansi, atau unit khusus dengan didukung SDM yang berkualitas untuk mengelolanya, hal ini terkait dengan pengelolaan aset – aset yang dimilik oleh daerah agar kemampuan aset daerah dapat dioptimalkan kinerjanya dalam era keterbukaan dan otonomi daerah saat ini

DAFTAR REFERENSI :

1. Hariyanto, T. 2006. Materi Kuliah Sistem Informasi Manajemen Aset. ITS Surabaya.

2. Irwansyah, Susi Rosdianasari, Dewantara, 2006, Jurnal “Manajemen Basisdata Dan Penyebarluasan Informasi Spatial Pemerintah Daerah Melalui Pembangunan Sulawesi Geographic Information System (GIS)“, Jakarta, Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD).

3. Siregar, Doli D. 2004. Manajemen Aset. Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: